Skip to main content

MAKALAH: INTERAKSI SOSIAL



2.1  Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik (sosial) berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok.
Umumnya di Indonesia terdapat aturan untuk berinteraksi, yang meliputi :
1.      Usia: cara seseorang berinteraksi dengan orang yang lebih tua seringkali berbeda dengan orang yang sebaya, atau dengan orang yang lebih muda.
Contoh: Di Indonesia dalam berbicara atau berinteraksi dengan orang yang lebih tua dengan cara lebih santun dalam arti tidak kasar dan tidak seenaknya.
2.      Jenis kelamin : jenis kelamin juga bisa mempengaruhi interaksi sosial terhadap yang lainnya.
Contoh : di Indonesia laki-laki cenderung menghindari sekelompok perempuan yang telah membicarakan kosmetik atau model sepatu baru, sebaliknya perempuan pun cenderung menghindar  dari percakapan laki-laki tentang sepak bola atau otomotif.
Status sosial memiliki hubungan dalam berinteraksi sosial di Indonesia. Status sosial merupakan posisi seseorang secara umum dalam masyarakat dalam hubungannya dengan orang lain.
Di indonesia untuk memperoleh status terdapat tiga cara yaitu :
Ascribe status  merupakan status seseorang yang dicapai dengan sendirinya tanpa perbedaan rohaniah dab kemampuan.
Contoh : anak yang lahir dari keluarga bangsawan dengan sendirinya langsung memperoleh status bangsawan, seperti R.Ajeng kartini.
Achieved status merupakan status yang diperoleh seseorang dengan usaha-usaha yang di sengaja. Contoh: setiap orang bisa menjadi guru asalkan memenuhi persyaratan tertentu, seperti lulusan fakultas pendidikan, memiliki pengalaman kerja dalam bidang keguruan dan lulus ujian sebagai guru.
Assigned status merupakan status yang diperoleh dari pemberian pihak lain.
Contoh : gelar pahlawan revolusi , siswa teladan.[1]

2.1.1           Bentuk- Bentuk Interaksi Sosial di Indonesia
Bentuk-bentuk sosial di indonesia dibedakan menjadi dua yaitu bentuk asosiatif dan disosiatif.
Ø  Bentuk asosiatif yaitu bentuk interaksi sosial yang bersifat positif.
Proses asosiatif mempunyai bentuk-bentuk, antara lain kerja sama, akomodasi, asimilasi dan akulturasi.[2]
Kerja sama (cooperation)
Kerja sama adalah siuatu usaha bersama antara individu atau kelompok untuk mencapai  tujuan bersama.
Contoh : kerja sama antar prajurit dalam satu kesatuan dapat terjalin ketika menghadapi musuh di dalam sebuah medan perang  pertempuran, seperti ketika perang melawan penjajah.[3]
Akomodasi  (accomodation )
Akomodasi memiliki dua makna, yaitu sebagai keadaan dan proses. Akomodasi sebagai keadaan mengacu  pada keseimbangan interaksi antara individu atau antar kelompok yang berkaitan dengan nilai dan norma sosial yang berlaku. Akomodasi sebagai sebuah proses mengacu pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan agar tercipta keseimbangan. [4]
Akomodasi sebenarnya  merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan lawan.
Contoh: pada bulan puasa, umat yang tidak berpuasa tidak makan di sembarang tempat. Selain itu, ketika suatu kelompok umat beragama sedang beribadah, umat beragama lain tidak membuat keributan.[5]
Asimilasi ( assimilation )
Asimilasi merupakan usaha-usaha untuk mengurangi perbedaan antara individu atau antar kelompok guna mencapai  satu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan tujuan-tujuan bersama.
Assimilasi adalah pembaharuan dua unsur sosial yang berbeda akan menghasilkan suatu unsur yang baru.[6]
Contoh :  Kelompok etnis sunda dan etnis jawa dimana mereka bersatu karena mempunyai tujuan yang sama yaitu membangun negara Indonesia menjadi negara maju, tanpa memperdulikan perbedaannya.
Akulturasi (akulturation )
Akulturasi adalahberpadunya dua kebudayaan yang berbeda dan membentuk satu kebudayaan baru dengan tidakmenghilangkan ciri kepribadian masing-masing.[7]
Contoh : Candi Borobudur yang merupakan perpaduan  antara kebudayaan India  dan kebudayaan Indonesia.
Ø  Bentuk disosiatif yaitu bentuk interaksi sosial yang bersifat negatif
Bentuk disosiatif atau oposisi  dibedakan kedalam tiga bentuk, yaitu persaingan, kontravens dan pertentangan.[8]
Persaingan (competition)
Pesaingan adalah perjuangan berbagai pihak untuk mencapai suastu tujuan tertentu. Persaingan mempunyai dua tipe, yaitu yang bersifat pribadi dan bersifat non pribadi. Tipe yang bersifat pribadi disebut juga dengan rivalry (persaingan).  Dalam rivalry, individu akan bersaing secara langsung, misalnya persaingan anggota untuk memperoleh kedudukan tertentu dalam sebuah organisasi.[9]
Dalam sifat yang bersifat non pribad, yang bersaing bukan individu-individu, melainkan kelompok. Contohnya persaingan kesebelasan timnas garuda yang berebut kemenangan dengan malaysia ketika kejuaraan AFF ASEAN 2012.


Kontravensi ( contravention)
Kontravensi adalah hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada diantara persaingan dan pertentangan. Kontravensi ditandai oleh adanya ketidakpuasan dan ketidakpuasan mengenai diri seseorang, rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, atau kebencian dan  keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang. Kontravensi cenderung bersifat rahasia. Perang dingin merupakan salah satu contoh kontravensi karena tujuannya membuat lawan tidak tenang atau resah. [10]
Pertentangan atau Konflik (cocflict)
Pertentangan atau Konflik adalah suatu perjuangan individu  atau kelompok sosial untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan. Biasanya, konflik disertai dengan ancaman atau kekerasan. Konflik terjadi karena adanya perbedaan pendapat, perasaan individu, kebudayaan, kepentingan baik kepentingan individu maupun kelompok, dan dan terjadinya perubahan-perubahan sosial yang cepat dan menimbulkan disorganisasi sosial. [11]

2.2  Proses Interaksi Sosial
Proses Interaksi sosial menurut Herbert Blumer adalah pada saat manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki sesuatu tersebut bagi manusia. Kemudian makna yang dimiliki sesuatu itu berasal dari interaksi antara seseorang dengan sesamanya. Dan terakhir adalah Makna tidak bersifat tetap namun dapat dirubah, perubahan terhadap makna dapat terjadi melalui proses penafsiran yang dilakukan orang ketika menjumpai sesuatu. Proses tersebut disebut juga dengan interpretative process 
Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan. Karp dan Yoels menunjukkan beberapa hal yang dapat menjadi sumber informasi bagi dimulainya komunikasi atau interaksi sosial. Sumber Informasi tersebut dapat terbagi dua, yaitu Ciri Fisik dan Penampilan. Ciri Fisik, adalah segala sesuatu yang dimiliki seorang individu sejak lahir yang meliputi jenis kelamin, usia, dan ras. Penampilan di sini dapat meliputi daya tarik fisik, bentuk tubuh, penampilan berbusana, dan wacana. 
Interaksi sosial memiliki aturan, dan aturan itu dapat dilihat melalui dimensi ruang dan dimensi waktu dari Robert T Hall dan Definisi Situasi dari W.I. Thomas. Hall membagi ruangan dalam interaksi sosial menjadi 4 batasan jarak, yaitu jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak publik. Selain aturan mengenai ruang Hall juga menjelaskan aturan mengenai Waktu. Pada dimensi waktu ini terlihat adanya batasan toleransi waktu yang dapat mempengaruhi bentuk interaksi. Aturan yang terakhir adalah dimensi situasi yang dikemukakan oleh W.I. Thomas. Definisi situasi merupakan penafsiran seseorang sebelum memberikan reaksi. Definisi situasi ini dibuat oleh individu dan masyarakat. 

2.3  Faktor – Faktor Yang Mendorong Terjadinya Interaksi Sosial 
2.3.1      Tindakan Sosial 
Tidak semua tindakan manusia dinyatakan sebagai tindakan sosial misalnya : Seorang pemuda yang sedang mengkhayalkan gadis impiannya secara diam – diam . Menurut MAX WEBER , tindakan sosial adalah tindakan seorang individu yang dapat mempengaruhi individu – individu lainnya dalam masyarakat . Tindakan sosial dapat dibedakan menjadi 4 macam yaitu : 
a.       Tindakan Rasional Instrumental : Tindakan yang dilakukan dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara dan tujuan . Contoh : Bekerja Keras untuk mendapatkan nafkah yang cukup . 
b.      b. Tindakan Rasional Berorientasi nilai : Tindakan – Tindakan yang berkaitan dengan nilai – nilai dasar dalam masyarakat . Contoh : Tindakan –Tindakan yang bersifat Religio – magis . 
c.       c. Tindakan Tradisional; Tindakan yang tidak memperhitungkan pertimbangan Rasional . Contoh : Berbagai macam upacara \ tradisi yang dimaksudkan untuk melestarikan kebudayaan leluhur . 
d.      d. Tindakan Ofektif : Tindakan – Tindakan yang dilakukan oleh seorang \ kelompok orang berdasarkan perasaan \ emosi 

2.3.2      Kontak Sosial 
Dalam kehidupan sehari-hari kontak sosial dapat dilakukan dengan cara : 
a.       Kontak Sosial yang dilakukan menurut cara pihak-pihak yang berkomunikasi . Cara kontak sosial itu ada 2 macam yaitu : 
1)      Kontak Langsung : Pihak komunikator menyampaikan pesannya secara langsung kepada pihak komunikan . 
2)      Kontak Tidak Langsung : Pihak komunikator menyampaikan pesannya kepada pihak komunikan melalui perantara pihak ketiga . 
b.      Kontak Sosial yang dilakukan menurut terjadinya proses komunikasi . Ada 2 macam kontak sosial .
1)      Kontak Primer 
2)      Kontak Sekunder 
3)      Komunikasi Sosial 
Komunikasi artinya berhubungan atau bergaul dengan orang lain. Orang yang menyampaikan komunikasi disebut komunikator , orang yang menerima komunikasi disebut komunikan. Tidak selamanya kontak sosial akan menghasilkan interaksi sosial yang baik apabila proses komunikasinya tidak berlangsungnya secara komunikatif . Contoh : Pesan yang disampaikan tidak jelas, berbelit – belit , bahkan mungkin sama sekali tidak dapat dipahami . 

2.4  Faktor Psikologi Pendorong Interaksi Sosial
Terdapat empat faktor yang mendasari kelangsungan interaksi sosial,  yaitu:
1.      Faktor imitasi, masyarakat merupakan pengelompokan manusia di mana tiap individu saling mengimitasi (meniru) dari orang lain dan sebaliknya. Bahkan masyarakat baru menjadi masyarakat yang sebenarnya ketika manusia mulai mengimitasi kegiatan manusia lainnya.
2.      Faktor sugesti, pengaruh psikis baik yang datang dari diri sendiri maupun yang datang dari orang lain, umumnya sugesti diterima tanpa adanya kritik dati individu yang bersangkutan. Sugesti adalah suatu proses di mana individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman tingkah laku orang lain tanpa kritik terlebih dahulu.
3.      Faktor identifikasi merupakan dorongan untuk menjadi identik atau sama dengan orang lain.
4.      Faktor simpati, orang memiliki kecenderungan tertarik pada orang lain, sedangkan orang yang memiliki kecenderungan menolak orang lain disebut antipati. Simpati akan menjalin hubungan saling pengertian yang saling mendalam dalam inteaksi antarindividu, ingin mengerti dan ingin kerja sama dengan orang lain serta saling melengkapi satu sama lain.


2.5  Integrasi Sosial
Integrasi bangsa indonesia adalah masalah esensial bagi bangsa ini, dan merupakan masalah dinamis dan kompleks yang memerlukan suatu kajian secara berkala untuk melihat mutu integrasi tersebut. Masalahnya bukan kita masih terintegrasi atau tidak, tetapi bagaimana mutu integrasinya. Proses disintegrasi tidak terjadi secara mendadak,tetapi yang terjadi adalah degradasi secara lambat dan tersembunyi, kemudian muncul dalam gejala yang sudah akut.
Masyarakat Indonesia yang ada pada dasarnya plural ( terdiri atas berbagai suku dan ras ) akan terus mengalami perkembangan dalam diferensiasi sosial ( pertambahan status sosial), dan stratifikasi sosial ,( pertambahan kelas ekonomi ) sehingga perebutan sumber-sumber yang langka yaitu status kekuasaan dan kekayaan akan menjadi semakin kompleks.
Dasar-dasar yang memberikan legitimasi dan motivasi untuk berintegrasi dalam suatu kesatuan negara bangsa ( nation-state) telah banyak mengalami perubahan sehingga perlu ditinjau kembali dengan telah yang lebih objektif.
Konsep kebangsaan indonesia adalah terbentuknya suatu nation yang tidak didasarkan pada kesamaan ras, suku, agama, kepentingan berasama ,geografi atau batas alamiah, tetapi merupakan suatu kesatuan solidaritas, kesatuan yang terdiri atas orang-orang yang saling merasa setia kawan dengan satu sama lain . nation adalah satu  jiwa ,satu azaz spiritual. Ia adalah suatu kesatuan solidaritas yang besar ,tercipta oleh suatu perasaan pengorbanan yang telah di buat di masalalu dan  oleh orang – orang yang bersangkutan bersedia buat di masa depan .
Secara teoritis , integrasi suatu negara bangsa di ciptakan oleh paling sedikit tiga kekuatan yang akan di jelaskan berikut ini .
Pertama adanya kesepakatan nilai yang mendarah daging pada masyarakat bangsa tersebut . masyarakat yang memiliki integrasi tipe ini ( integrasi normatif ) menjunjung tinggi kesatuan bangsa bukan saja sebagai alat yang ampuh untuk mencapai cita-cita bangsa , tetapi bahkan kesatuan merupakan tujuan itu sendiri. Sering kali integrasi sebagai tujuan “disucikan” melalui berbagai ritus kenegaraan . gejolak –gejolak yang muncul dalam perjalanan bangsa di anggap merupakan suatu dinamika dari sistem yang nanti akan bermuara ke suatu ekuilibrium.
Kedua, integrasi yang dihasilkan oleh suatu kekuatan yang memaksa dari suatu kelompok yang dominan. Integrasi seperti ini tidak terlalu mendasarkan kepada ada-ada tidaknya sistem nilai hidup berkembang dalam masyarakat yang mendukungnya. Kalaupun ada,sistem nilai yang seolah-olah hidup di dalam masyarakat itu sebenarnya hanya hasil rekayasa kelompok dominan melalui suatu ideological hegemony yang bertujuan menanamkan suatu kesadaran palsu pada masyarakat akan tujuan dan manfaat pada kesatuan. Bertahannya integrasi ini amat bergantung dari seberapa kekuatan kelompok dominan .
Ketiga, Integrasi yang muncul dan bertahan karena anggota masyarakat menyadari secara rasional bahwa integrasi tersebut amat mereka butuhkan untuk mencapai suatu tujuan bersama. Didalam Integrasi jenis ini,setiap kelompok harus merasa di untungkan oleh fungsi yang dijalankan oleh kelompok lain. Namun,yang penting juga adalah bahwa setiap kelompok harus memiliki fungsi yang diperlukan bagi kelompok lain sedemikian rupa sehingga kelompok lain memiliki posisi tawar yang cukup kuat untuk mempertahankan eksistensinya. Tanpa adanya saling ketergantungan fungsional seperti itu, jenis integrasi ini tidak akan dapat dipertahankan. Masyarakat juga harus yakin bahwa tanpa integrasi itu, tujuan bersama tidak mungkin tercapai.
Integrasi bangsa indonesia sacara teoritis dapat memilih integrasi yang mengandung ketiga unsur yang diuraiakan diatas , yaitu suatu integrasi oleh suatu kesepakatan nilai yang menjunjung tinggi kesatuan itu sendiri ( sebagai cita-cita ,bukan sekedar alat ) dan terdapat suatu daya tahan untuk mempertahankan komitmen tersabut bila perlu dengan suatu kekuatan yang riil .
Selanjutnya, integrasi suatu bangsa menurut kerangka pemikiran  atau pandangan Karl Max dan kerangka pemikiran atau pandangan Marx Weber ( melalui pendekatan sosiologi ) terjadi suatu perdebatan yang tiada hentinya tentang tarik menarik antara kekuatan ideas yang menimbulkan ‘’ nilai-nilai’’ dan ‘’interest’’ (kepentingan manusia akan pemenuhan kebutuhan materi)  dalam menggerakkan perilaku manusia.
 Bila berpegang pemikiran Karl Max, maka segala perilaku sosial adalah di orientasikan kepada material interest karena pada hakikatnya manusia itu sendiri adalah materi. Di sini semua materi ini menjadi instrumental implikasi dari pemikiran ini bahwa integrasi nasional hanya bisa terjadi bila secara rasional setiap warga negara sadar bahwa melalui itu mereka akan dapat memperoleh kepentingan materialnya.
Sedangkan pemikiran Max Weber percaya bahwa material interest bukan satu-satunya kekuatan yang memerlukan orientasi perilaku manusia, tetapi pada suatu titik tertentu ideas dapat menjadi suatu faktor yang secara independent mempengaruhi perilaku sosial (Mar Weber memang mengakui bahwa pada akhirnya kepentingan material memegang kendali yang menentukan ).
Secara Empiris, tampaknya pemikiran Max Weber lebih realitis ketimbang Karl Max. Bila kita menggunakan kerangka pemikiran ini untuk menelaah gejala integrasi sosial di indonesia, maka kita akan memperoleh penjelasan yang mencerahkan.

2.5.1                    Faktor-faktor pendorong integrasi nasional
Faktor-faktor pendorong integrasi nasional sebagai berikut:
1.      Faktor sejarah yang menimbulkan rasa senasib dan seperjuangan.
2.      Keinginan untuk bersatu di kalangan bangsa Indonesia sebagaiman adinyatakan dalam Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928.
3.      Rasa cinta tanah air di kalangan bangsa Indonesia, sebagaimana dibuktikan perjuangan merebut, menegakkan, dan mengisi kemerdekaan.
4.      Rasa rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara, sebagaimana dibuktikan oleh banyak pahlawan bangsa yang gugur di medan perjuangan.
5.      Kesepakatan atau konsensus nasional dalam perwujudan Proklamasi Kemerdekaan, Pancasila dan UUD 1945, bendera Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, bahasa kesatuan bahasa Indonesia

2.5.2                    Faktor-faktor Penghambat Integrasi Nasional
Faktor-faktor penghambat integrasi nasional sebagai berikut:
1.             Masyarakat Indonesia yang heterogen (beraneka ragam) dalam faktor-faktor kesukubangsaan dengan masing-masing kebudayaan daerahnya, bahasa daerah, agama yang dianut, ras dan sebagainya.
2.             Wilayah negara yang begitu luas, terdiri atas ribuan kepulauan yang dikelilingi oleh lautan luas.
3.             Besarnya kemungkinan ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang merongrong keutuhan, kesatuan dan persatuan bangsa, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
4.             Masih besarnya ketimpangan dan ketidakmerataan pembangunan dan hasil-hasil pembangunan menimbulkan berbagai rasa tidak puas dan keputusasaan di masalah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan), gerakan separatisme dan kedaerahan, demonstrasi dan unjuk rasa.
5.             Adanya paham “etnosentrisme” di antara beberapa suku bangsa yang menonjolkan kelebihan-kelebihan budayanya dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain.

2.5.3                    Konlfik dalam Masyarakat Indonesia
Pengertian Konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
2.5.4        Penyebab konflik
Perbedaan individu yang didasari oleh perbedaan pendirian dan perbedaan perasaan. Setiap manusia memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda, sehingga dalam menilai sesuatu tentu memiliki penilaian yang berbeda-beda. Misalnya masyarakat menilai kebijakan pemerintah mengenai menaikkan harga BBM karena harga bahan mentah naik. Tentu setiap masyarakat akan menilai dengan pemikirannya masing-masing yang mungkin secara umum terbagi menjadi kelompok yang pro dan kontra.
1.      Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
2.      Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda
3.      Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
4.      Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.

2.5.5        Akibat-akibat dari konflik.
Konflik dapat baik dan tidak baik. Konflik berakibat tidak baik seperti :
1.      Menghambat komunikasi, karena pihak-pihak yang berkonflik cenderung tidak berkomunikasi.
2.      Menghambat keeratan hubungan.
3.      Karena komunikasi relative tidak ada, maka akan mengancam hubungan pihak-pihak yang berkonflik.
4.      Mengganggu kerja sama.
5.      Hubungan yang tidak terjalin baik, bagaimana mungkin terjadi kerjasama yang baik
Konflik berakibat baik seperti:
1.      Membuat suatu organisasi hidup, bila pihak-pihak yang berkonflik memiliki kesepakatan untuk mencari jalan keluarnya.
2.      Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan merupakan salah satu akibat dari konflik, yang tujuannya tentu meminimalkan konflik yang akan terjadi dikemudian hari.
3.      Melakukan adaptasi, sehingga dapat terjadi perubahan dan perbaikan dalam system serta prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.
4.      Memunculkan keputusan-keputusan yang inovatif.
5.      Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.


Cara-Cara Mengatasi Konflik
1.      Rujuk
2.      Persuasi
3.      Tawar menawar
4.      Pemecahan masalah terpadu
5.      Penarikan diri
6.      Pemaksaan dan penekanan




BAB III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
1.      Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik (sosial) berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok.
2.      Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan.
3.      Interaksi sosial sangat diperlukan karena salah satu cara untuk mendapatkan satu golongan atau perkumpulan antar manuasia karena khalayak makhluk hidup manusia tidak dapat berdiri sendiri, dan manusia sangat bergantung pada manusia lainnya.




DAFTAR PUSTAKA
Marwati.Kun.2001. Sosiologi untuk SMA dan MA. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama
Marwati.Kun.2002. Sosiologi untuk SMA dan MA. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama
Mutakin,Awan. 2004. Dinamika Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT Genesindo
Nasikun. 1995. "Struktur Majemuk Indonesia" dalam Sistem Sosial Indonesia.
       Jakarta: PT. Raja Grafindo Persad, pp. 27-50
Nasikun. 1995. "Struktur Masyarakat Indonesia dalam Masalah Integrasi
       Nasional" dalam Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT.Raja Grafindo
       Persada, pp. 61-87
http://stikunsap.forumotion.net/t6-interaksi-sosial-dalam-hubungan-antar-manusia


[1]Kun Marwati2001. Sosiologi untuk SMA dan MA. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama. hlm 69-70
[2]Ibid., hlm 75
[3]Ibid., hlm 75
[4]Ibid., hlm 76-75
[5]Ibid.,
[6]Ibid., hlm 78
[7]Ibid., hlm 79
[8]Ibid., hlm 80
[9]Ibid., hlm 80
[10]Ibid., hlm 80
[11]Ibid., hlm 81


Bagi pembaca atau pun melakukan copy paste mohon cantumkan dalam referensi

Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH: SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA

Asas Sistem Sosial Budaya Indonesia Pada dasarnya, masyarakat Indonesia sebagai suatu kesatuan telah lahir jauh sebelum lahirnya (secara formal) masyarakat Indonesia. Peristiwa sumpah pemuda pada tannggal 28 Oktober 1928 antara lain merupakan bukti yang jelas. Peristiwa ini merupakan suatu konsensus nasional yang mampu membuat masyarakat Indonesia terintegrasi di atas gagasan Bhineka Tunggal Ika. K onsensus adalah persetujuan atau kesepakatan yang bersifat umum tentang nilai-nilai, aturan, dan norma dalam menentukan sejumlah tujuan dan upaya mencapai peranan yang harus dilakukan serta imbalan tertentu dalam suatu sitem sosial. Model konsensus tentang kelangsungan suatu masyarakat didasarkan pada “asas penting” yang menyangkut unsur-unsur, seperti kesepakatan, persetujuan, mufakat, kesatuan dan persatuan, serta integrasi. Model konsensus atau model integrasi yang menekankan akan unsur norma dan   legitimasi memiliki landasan tentang masyarakat, yaitu sebagai berikut. a. ...

rincian acara ASIH DINA HIJI SASIH

Assalamualaikum Wr. Wb. Diberitahukan kepada seluruh ORMAWA dan Mahasiswa Umum, Dewan Mahaasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan berbagai macam perlombaan dalam rangkaian Asih Dina Hiji Sasih. Adapun lomba yang diselenggarakan sebagai berikut : Lomba HMJ / BEM-J : 1. Hjab Festival, 2 orang per-HMJ (1 orang model dan 1 orang perias) 2. Karya Tulis Ilmiah (Tema: Intelektual Muslim Masa Depan UIN) 3. Lomba Da'i (Tema kegiatannya "Dakwah Satu Negeri", namun untuk isi dari puisinya itu sendiri BEBAS) 4. Lomba Tahfidz Qur'an (3 Juz Al-Qur'an, dari Juz 28-30) 5. Desain Logo (Pusat Karya Mahasiswa) 6. Rektor Cup - Futsal - Basket - Catur - Voley Lomba SENAT : 1. Debat (Tema : Bukan Sekedar Bicara Solusi), senat mengirimkan 1 team yang berjumlah 3 orang 2. Mojang Jajaka UIN Bandung : 1 pasang, delegasi perfakultas 3. Carnaval Budaya : minimal 20 orang / Fakultas 4. Bazar Karya Mahasiswa 5. Lomba Mini Riset mengenai P...