BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Merupakan awal dari makalah yang akan
membahas secara keseluruhan yang harus di pahami, terutama oleh mahasiswa,
setiap awal dari bab harus adanya tujuan pembelajaran yang harus di capai.[1]
Kehidupan masyarakat indonesia semenjak
kemunculannya di kepulauan Nusantara ini sepanjang waktu selalu mengalami
dinamika, dimulai dari kelompok-kelompok kecil hingga membentuk bangsa yang
besar. Pada awalnya kehidupan masyarakat membentuk komunitas kecil yang ada di
berbagai pelosok, kemudian membentuk suku bangsa, dan pernah menjadi bangsa
yang berdaulat di masa lampau. Masyarakat yang terus mengalami perkembangan
akan terus diikuti oleh perkembangan budaya yang diciptakannya. Perkembangan
budaya ini tidak tumbuh dan berkembang di masyarakat itu sendiri tetapi diikuti
oleh pengaruh agama dan budaya luar, seperti dari India, Arab Islam, dan Eropa.
Pengaruh budaya dari luar akan turut memperkaya budaya masyarakat, bahkan
pengaruhnya sampai sekarang sangat kuat misalkan: dalam benuk bahasa, prilaku,
nama diri, bentuk bangunan, dan lain-lain.[2]
Kehidupan masyarakat yang majemuk,
nampaknya menyimpan potensi konflik horizontal. Karena itu pemerintah,
masyarakat, kelompok-kelompok sosial, maupun individu harus waspada terhadap
terjadinya konflik yang mungkin terjadi. Sehingga diperlukan kesadaran yang
tinggi dalam memahami rasa kebangsaan yang utuh. Karena kemajemukan yang
terjadi tidak dapat di hindari, maka diperlukan adanya konsensus yang
senantiasa di hormati sebagai pengendali konfli. Timbulnya konflik yang terjadi
diberbagai daerah akibat rapuhnya konsensus nasional dan pudarnya kesadaran sebagai bangsa yang majemuk.
Karena itu penanaman kesadaran ini
merupakan kewajiban bersama yang harus dilakukan setiap warga negara
sebagaimana semboyan Bhineka Tunggal Ika.[3]
1.2
Rumusan
Masalah
Adapun
dari latar belakang yang terjadi penulis menemukan rumusan yang terjadi :
1. Negara
apa saja yang meliputi Asia Tenggara ?
2. Bagaimana
sejarah geografis Indonesia ?
3. Bagaimana
interaksi dan lapisan sosial di Indonesia ?
4. Bagaimana
cara perubahan sosial dan budaya Indonesia ?
5. Bagaimana
ragam kebudayaan masyarakat Indonesia ?
6. Bagaimana
keadaan ekonomi di Indonesia ?
7. Apa
saja mata pencaharian Indonesia ?
1.3
Tujuan
Masalah
Adapun makalah ini kami buat, agar mahasiswa dapat:
Ø Memberikan
pengetahuan pada mahasiswa tentang dinamika masyarakat indonesia
Ø Mampu
memahami dasar dasar kebudayaan dinamika masyarakat Indinesia
Ø Mampu
menjelaskan mengenai Negara Indonesia
Ø Mengetahui
latar belakang terbentuknya indonesia
Ø Mengetahui
dengan kehidupan masyarakat Indonesia
Ø Untuk
menambah wawasan mengenai dinamika masyarakat
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Asia
Tenggara
Asia tenggara merupakan salah satu
tempat peleburan besar di dunia. Penduduknya yang beraneka ragam bepindah
kewilayah ini untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan keamanan yang lebih
terjamin. Perpindahan penduduk yang besar ini di mulai sektar 4000 tahun yang
lalu. Kini Asia Tenggara meliputi berbagai negara merdeka seperti Indonesia,
Filiphina, Brunei, Malaysia, Singapura, Vietnam, Laos, Kampuchea (sebelumnya
adalah Kamboja), Thailan dan Myanmar.
Penduduk
asli Asia Tenggara berkulit gelap dan berbadan amat kecil, beberpa
diantara keturunnya kini masih tinggal di daerah tinggi di Filiphina, Indonesia
dan Malaysia. Sekitar 2500 tahun sebelum masehi, terjadilah gelombang
perpindahan penduduk pertama yang besar kewilayah Asia Tenggara. Mereka adalah
orang Melayu, atau Indonesia yang keturunanya
merupakan mayoritas populasi di Filiphina dan Indonesia sekarang ini. [4]
2.2
Geografi
Sejarah Indonesia
2.1.1
Letak
Astronomis
Letak astronomis Indonesia adalah antara
6oLU-11o LS dan antara 95o BT-141o BT. Wilayah atau pulau paling barat adalah
Pulau Rondo (dekat Pulau We) dan paling
timur adalah garis perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini di Provinsi Papua.
Sementara wilayah paling utara adalah Pulau Rondo dan yang paling selatan Pulau
Rote.
Akibat dari letak garis bujur tersebut
maka Indonesia terbagi menjadi tiga daerah waktu, yaitu Waktu Indonesia Barat
(WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT) yang
berlaku sejak 1 januari 1988.
2.1.2
Letak
Geografis
Indonesia terletak diantara dua benua
(Benua Asia dan Benua Australia) dan dua Samudra (Samudra Hindia dan Samudra
Pasifik). Luas wilayah daratan Indonesia 18.945 km2, sedangkan luas
lautan sesuai dengan batas teritorial 3.257.357 km2. Jumlah pulau
Indonesia 17.508 pulau. Pulau yang sudah di beri nama sekitar 44%, sedangkan
yang sudah didiami penduduk baru sekitar 7%.
Wilayah Indonesia merupakan kepulauan.
Pulau-pulau ini membentang bagai jembatan batu pijakan antara daratan Asia dan
Australia. Gunung-gunungnya menjulang tinggi dan sering mencapai ketinggian
yang luar biasa di beberapa pulau. Karena letaknya tepat pada khatulistiwa,
Indonesia beriklim tropis. Meskipun bersuhu tinggi, biasanya suhunya itu
bervariasi sesuai dengan tinggi rendahnya letak daerah terebut terhadap panas
laut. [5]
Kepulauan
Sunda besar, Lima pulau utama di Indonesia adalah
Jawa; Sumatra; Kalimantan; Sulawesi (yang dulu disebut celebes); dan Irian Jaya
keempat pulau pertama tersebut membentuk kepulauan Sunda Besar dengan luas
daerah kira-kira 1.277.000 km. Dalam catatan sejarah Indonesia, Jawa merupakan pulau terpenting di
antara pulau-pulau lainnya. Sekarang, dua pertiga penduduk Indonesia (sekitar
124 juta) tinggal di pulau yang hanya seluas negara bagian New York dan sangat
padat penduduknya.[6]
SUMATRA
adalah pulau terpenting kedua di
Indonesia. Sebuah jajaran pegunungan yang panjang, yaitu bukit barisan
terentang sepanjang pantai barat-daya Sumatra. Bagian pedalaman pulau ini
terselimuti hutan, sedangkan daratan pantai bagian timur tertutup oleh
rawa-rawa.
KALIMANTAN
adalah pulau terbesar ketiga di dunia, dan sebagian
besar dari pulau itu termasuk dalam wilayah Indonesia. Bagian lain dari pulau
itu terdiri atas Serawak dan Sabah (bagian dari malaysia) dan negara kaya
minyak Brunai. Sebagian besar Kalimantan adalah dataran pegunungan dan hutan
rimba yang lebat.
SULAWESI,
pulau terakhir dalam gugus kepulauan Sunda Besar,
terdiri atas empat jazirah pegunungan. Permukaan daeranya yang tidak nyata
memisahkan penduduk pulau dibagian yang satu dengan dibagian penduduk lainya.
Jumlah penduduk yang lebih dari 10 juta jiwa terdiri dari kelompok-kelompok
kecil masyarakat dengan bahasa, kebiasaan dan agama yang berbeda.
Kepulauan
Sunda Kecil. Sepanjang lautan Banda dan laut Flores
dari Sulawesi adalah kepulauan Sunda Kecil dengan total luas sekitar 73.000 km.
Dari kelompok ini yang menarik adalah pulau Bali, sebuah pulau yang sangat
indah. Bali dikenal karena budaya Hindu yang kunonya. Seperti halnya Jawa, Bali
juga berpenduduk padat dan kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani[7] di
lahan kecil yang teririgasi. Pulau Flores, Sumba, Lombok dan timor berpenduduk
kurang padat dan kebanyakan terlalu kering untuk lahan pertanian.[8]
Maluku.
Provinsi yang berupa gugus kepulauan ini terdiri
atas beratus-ratus pulau yang dikenal dalam sejarah sebagai pulau
rempah-rempah.
Irian
Jaya. Wilayah Indonesia yang terletak paling
Timur adalah Irian Jaya, yaitu bagian pulau barat Irian, yang bagian timurnya
merupakan bagian[9]
utama negara Papua Nuhgini. Irian Jaya yang tertutup hutan lebat ini di huni
oleh lebih dari 2 juta suku Irian, yang umumnya hidup dalam tingkat teknologi
sederhana.[10]
2.3
Interaksi
Sosial
Interaksi sosial adalah hubungan timbal
balik (sosial) berupa aksi saling mempengaruhi antara individu dengan individu,
individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok.
Umumnya di
Indonesia terdapat aturan untuk berinteraksi, yang meliputi :
1. Usia:
cara seseorang berinteraksi dengan orang yang lebih tua seringkali berbeda
dengan orang yang sebaya, atau dengan orang yang lebih muda.
Contoh:
Di Indonesia dalam berbicara atau berinteraksi dengan orang yang lebih tua
dengan cara lebih santun dalam arti tidak kasar dan tidak seenaknya.
2. Jenis
kelamin : jenis kelamin juga bisa mempengaruhi interaksi sosial terhadap yang
lainnya.
Contoh
: di Indonesia laki-laki cenderung menghindari sekelompok perempuan yang telah
membicarakan kosmetik atau model sepatu baru, sebaliknya perempuan pun
cenderung menghindar dari percakapan
laki-laki tentang sepak bola atau otomotif.
Status
sosial memiliki hubungan dalam berinteraksi sosial di Indonesia. Status sosial
merupakan posisi seseorang secara umum dalam masyarakat dalam hubungannya
dengan orang lain.
Di indonesia untuk
memperoleh status terdapat tiga cara yaitu :
Ascribe
status merupakan status seseorang yang
dicapai dengan sendirinya tanpa perbedaan rohaniah dab kemampuan.
Contoh : anak yang
lahir dari keluarga bangsawan dengan sendirinya langsung memperoleh status
bangsawan, seperti R.Ajeng kartini.
Achieved
status merupakan status yang diperoleh seseorang dengan usaha-usaha yang di
sengaja. Contoh: setiap orang bisa menjadi guru asalkan memenuhi persyaratan
tertentu, seperti lulusan fakultas pendidikan, memiliki pengalaman kerja dalam
bidang keguruan dan lulus ujian sebagai guru.
Assigned
status merupakan status yang diperoleh dari pemberian pihak lain.
Contoh : gelar pahlawan
revolusi , siswa teladan.[11]
Bentuk-
Bentuk Interaksi Sosial di Indonesia
Bentuk-bentuk sosial di indonesia
dibedakan menjadi dua yaitu bentuk asosiatif dan disosiatif.
Ø Bentuk asosiatif yaitu
bentuk interaksi sosial yang bersifat positif.
Proses asosiatif mempunyai
bentuk-bentuk, antara lain kerja sama, akomodasi, asimilasi dan akulturasi.[12]
Kerja sama
(cooperation)
Kerja sama adalah siuatu usaha bersama
antara individu atau kelompok untuk mencapai
tujuan bersama.
Contoh
: kerja sama antar prajurit dalam satu kesatuan dapat terjalin ketika
menghadapi musuh di dalam sebuah medan perang
pertempuran, seperti ketika perang melawan penjajah.[13]
Akomodasi (accomodation )
Akomodasi memiliki dua makna, yaitu
sebagai keadaan dan proses. Akomodasi sebagai keadaan mengacu pada keseimbangan interaksi antara individu
atau antar kelompok yang berkaitan dengan nilai dan norma sosial yang berlaku.
Akomodasi sebagai sebuah proses mengacu pada usaha-usaha manusia untuk
meredakan suatu pertentangan agar tercipta keseimbangan. [14]
Akomodasi
sebenarnya merupakan suatu cara untuk
menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan lawan.
Contoh:
pada bulan puasa, umat yang tidak berpuasa tidak makan di sembarang tempat.
Selain itu, ketika suatu kelompok umat beragama sedang beribadah, umat beragama
lain tidak membuat keributan.[15]
Asimilasi (
assimilation )
Asimilasi merupakan usaha-usaha untuk
mengurangi perbedaan antara individu atau antar kelompok guna mencapai satu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan
tujuan-tujuan bersama.
Assimilasi
adalah pembaharuan dua unsur sosial yang berbeda akan menghasilkan suatu unsur
yang baru.[16]
Contoh
: Kelompok etnis sunda dan etnis jawa
dimana mereka bersatu karena mempunyai tujuan yang sama yaitu membangun negara
Indonesia menjadi negara maju, tanpa memperdulikan perbedaannya.
Akulturasi
(akulturation )
Akulturasi adalahberpadunya dua
kebudayaan yang berbeda dan membentuk satu kebudayaan baru dengan
tidakmenghilangkan ciri kepribadian masing-masing.[17]
Contoh
: Candi Borobudur yang merupakan perpaduan
antara kebudayaan India dan
kebudayaan Indonesia.
Ø Bentuk disosiatif yaitu
bentuk interaksi sosial yang bersifat negatif
Bentuk disosiatif atau oposisi dibedakan kedalam tiga bentuk, yaitu
persaingan, kontravens dan pertentangan.[18]
Persaingan
(competition)
Pesaingan adalah perjuangan berbagai
pihak untuk mencapai suastu tujuan tertentu. Persaingan mempunyai dua tipe,
yaitu yang bersifat pribadi dan bersifat non pribadi. Tipe yang bersifat
pribadi disebut juga dengan rivalry (persaingan). Dalam rivalry, individu akan bersaing secara
langsung, misalnya persaingan anggota untuk memperoleh kedudukan tertentu dalam
sebuah organisasi.[19]
Dalam sifat yang bersifat non pribad,
yang bersaing bukan individu-individu, melainkan kelompok. Contohnya persaingan
kesebelasan timnas garuda yang berebut kemenangan dengan malaysia ketika
kejuaraan AFF ASEAN 2012.
Kontravensi (
contravention)
Kontravensi adalah hakikatnya merupakan
suatu bentuk proses sosial yang berada diantara persaingan dan pertentangan.
Kontravensi ditandai oleh adanya ketidakpuasan dan ketidakpuasan mengenai diri
seseorang, rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, atau kebencian
dan keragu-raguan terhadap kepribadian
seseorang. Kontravensi cenderung bersifat rahasia. Perang dingin merupakan
salah satu contoh kontravensi karena tujuannya membuat lawan tidak tenang atau
resah. [20]
Pertentangan atau
Konflik (cocflict)
Pertentangan atau Konflik adalah suatu
perjuangan individu atau kelompok sosial
untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan. Biasanya, konflik
disertai dengan ancaman atau kekerasan. Konflik terjadi karena adanya perbedaan
pendapat, perasaan individu, kebudayaan, kepentingan baik kepentingan individu
maupun kelompok, dan dan terjadinya perubahan-perubahan sosial yang cepat dan
menimbulkan disorganisasi sosial. [21]
2.4
Struktur
Sosial
Definisi Struktur Sosial adalah
tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam suatu
masyarakat. Dalam hal ini struktur sosial dapat horizontal maupun vertikal
susunannnya.Contoh struktur sosial yang Horizontal adalah kelompok pria dan
kelompok wanita, atau kelompok orang beragama Islam, Kristen, Katholik, Hindu,
Budha dan Konghucu. Cirinya masing-masing dalam kelompok tersebut tidak
bertingkat, artinya di masyarakat kedudukannya sama. Sedangkan contoh Sruktur
sosial yang vertikal adalah kelompok orang kaya dan kelompok orang miskin, hal
ini jelas menunjukkan kedudukan yang berbeda dalam masyarakat.Orang kaya berada
di tempat yang lebih tinggi daripada orang miskin.
Struktur
sosial muncul karena adanya dua unsur berikut yaitu :
1. individu,
dalam hal ini individu adalah sebagai pembentuk masyarakat sekaligus pembentuk
struktur sosial, Jika tidak ada individu-individu maka tidak mungkin ada
masyarakat
2. interaksi,
interaksi antar individu dalam masyarakat akan membentuk struktur sosial, tanpa
adanya interaksi maka struktur sosial tidak mungkin terbentuk
Ciri-ciri Struktur Sosial di Indonesia :
1. Muncul pada
kelompok masyarakat Indonesia
2. Berkaitan
erat dengan kebudayaan
3. dapat
berubah dan berkembang
Stratifikasi
Sosial di indonesia
Stratifikasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
diartikan sebagai pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas
secara bertingkat atas dasar kekuasaan, hak-hak istimewa, dan prestise. Apabila
berbicara tentang struktur atau susunan masyarakat Indonesia, maka stratifikasi
sosial ikut masuk dalam bahasan. Struktur masyarakat Indonesia memiliki dua
ciri yaitu secara horizontal dan secara vertikal. Secara horizontal, ia
ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan- kesatuan sosial berdasarkan
perbedaan-perbedaan suku-bangsa, perbedaan-perbedaan agama, adat serta
perbedaan-perbedaan kedaerahan. Secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia
ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan
lapisan bawah secara kontras (Nasikun, 1995: 28). Jadi, stratifikasi
sosial menurut penulis lebih berkaitan dengan ciri struktur masyarakat
Indonesia secara vertikal karena membedakan masyarakat ke dalam kelas atau
lapisan atas dan bawah, serta dalam beberapa kasus memiliki potensi konflik
lebih tinggi dibandingkan struktur horizontal.
Secara horizontal, masyarakat Indonesia disebut
sebagai masyarakat yang bersifat majemuk karena dalam satu kesatuan terdapat
suku-bangsa, agama, adat dan kedaerahan yang berbeda. Antara suku-bangsa,
agama, adat dan kedaerahan tersebut seharusnya berada dalam satu garis. Sebagai
contoh, suku Jawa tidak berada di kelas yang lebih tinggi dibandingkan suku
Batak, dan sebaliknya. Akan tetapi, dalam kenyataannya, adanya sekelompok orang
dengan primordialisme yang tinggi dalam kemajemukan dan berbagai alasan lain menyebabkan
struktur yang seharusnya horizontal seakan-akan menjadi vertikal. Berdasarkan
kesimpulan konsepsi Furnivall, masyarakat majemuk adalah suatu masyarakat dalam
mana sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial yang menjadi
bagian-bagiannya adalah sedemikian rupa sehingga para anggota masyarakat kurang
memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai keseluruhan, kurang memiliki
homogenitas kebudayaan atau bahkan kurang memiliki dasar-dasar untuk saling
memahami satu sama lain (Nasikun, 1995: 32). Perasaan bahwa suku-bangsa, agama
atau adat milik diri lebih baik dibandingkan milik orang lain akhirnya juga
memunculkan potensi konflik antar masyarakat, sama halnya dengan potensi
konflik akibat pembedaan antara kelas atas dan kelas bawah.
Struktur vertikal yang membedakan antara kelas atas
dan kelas bawah atau stratifikasi sosial masyarakat Indonesia telah terjadi
pada saat era kolonialisme. Dari penjelasan Furnivall, pembedaan kelas yang
sekaligus bertemu dengan dimensi pluralitas sebelum kemerdekaan Indonesia lebih
ke golongan Eropa, Tionghoa dan golongan Pribumi. Hal itu cukup valid apabila
melihat masyarakat Indonesia pada masa Hindia-Belanda yaitu orang Pribumi
justru menjadi kelas bawah sedangkan orang Eropa seperti Belanda dalam kelas atas
dan Tionghoa berada dalam kelas menengah. Akan tetapi, sejak Indonesia merdeka,
pemahaman tersebut haruslah diubah. Sejak saat itu, pluralitas yang terdapat di
dalam golongan Pribumi itu sendiri memperoleh artinya yang lebih penting
daripada apa yang dikemukakan oleh Furnivall (Nasikun, 1995: 34).
Kelahiran Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang
merdeka, sangat jelas menunjukkan betapa nasionalisme Pancasila telah menjadi
daya spiritual yang sejak awal mempersatukan bangsa Indonesia (Nasikun, 1995:
84). Pancasila, hukum yang dibuat sendiri oleh negara Indonesia dan
tradisi-tradisi yang dipertahankan menjadi alat coercion untuk
mengintegrasi masyarakat Indonesia yang majemuk. Konflik yang terjadi akibat
stratifikasi sosial saat ini tidak begitu parah dibandingkan masa
Hindia-Belanda, sehingga dapat dikatakan terjadi minimalisasi potensi konflik.
Konflik yang kita jumpai di dalam masyarakat Indonesia sesudah revolusi
kemerdekaan bukanlah konflik antara golongan-golongan yang bersifat eksklusif
seperti keadaannya pada masa penjajahan, melainkan merupakan konflik
golongan-golongan yang sedikit banyak bersifat silang-menyilang (cross-cutting)
(Nasikun, 1995: 85).
Jadi, struktur sosial horizontal dan vertikal pada
masa Hindia-Belanda menimbulkan potensi konflik yang saling tumpang tindih.
Pluralitas masyarakat yang bersifat multi-dimensional itu akan dan telah
menimbulkan persoalan tentang bagaimana masyarakat Indonesia terintegrasi
secara horizontal, sementara stratifikasi sosial sebagaimana yang diwujudkan
oleh masyarakat Indonesia akan memberi bentuk pada integrasi nasional yang
bersifat vertikal (Nasikun, 1995: 61). Akan tetapi, semenjak merdeka, konflik
yang bersifat eksklusif pada masa Hindia-Belanda berubah. Bersama-sama dengan
tumbuhnya konsensus nasional mengenai nilai-nilai nasionalisme Pancasila yang
senantiasa bertanggapan secara dinamis dengan mekanisme pengendalian
konflik-konflik yang bersifat coercive, maka struktur masyarakat
Indonesia yang bersifat silang-menyilang itu telah menjadi landasan mengapa masyarakat
Indonesia tetap dapat lestari dari masa ke masa, kendati ia harus mengarungi
samudera penuh dengan berbagai gelombang dan badai (Nasikun, 1995:
87).
2.5
Pranata
Sosial
Menurut koentjaraningrat menyatakan
bahwa pranata sosial merupakan sistem-sistem yang menjadi wahana yang
memungkinkan warga masyarakat untuk berinteraksi menurut pola-pola atau sistem
tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas-aktivitas untuk
memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. (1979)
2.5.1 Fungsi
Pranata Sosial
Pranata Sosial memiliki fungsi
utama, yakni seperti pada bagan berikut:
Bila
dijabarkan fungsi pranata sosial adalah sebagai berikut:
1.
Menjaga keutuhan masyarakat dari
ancaman perpecahan atau disntegrasi masyarakat. Hal ini mengingat bahwa sumber
pemenuhan kebutuhan hidup yang dapat dikatakan tidak seimbang dengan jumlah
manusia yang semakin bertambah baik kuantitas maupun kualitasnya, sehingga
dimungkinkan pertentangan yang bersumber perebutan maupun ketidakadilan dalam
usaha memenuhi kebutuhannya akan ancaman kesatuan dari warga masyarakat. Oleh
karena itu, norma-norma sosial yang terdapat di dalam pranata sosial akan
berfungsi untuk mengatur pemenuhan kebutuhan hidup dari setiap warganya secara
adil atau memadai, sehingga dapat terwujudnya kesatuan yang tertib.
2.
Memberikan pedoman pada anggota
masyarakat untuk bertingkah laku / bersikap untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dengan demikian pranata sosial telah siap dengan berbagai aturan atau
kaidah-kaidah sosial yang dapat dan harus dipergunakan oleh setiap anggota
masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
3. Memberi
pegangan pada masyarakat untuk menandakan sistem pengendalian sosial (social
control). Sanksi-sanksi atau pelanggaran norma-norma sosial merupakan
sarana agar setiap warga masyarakat tetap konform dengan norma-norma sosial
itu, sehingga tertib sosial dapat terwujud. Dengan demikian sanksi yang melekat
pada setiap norma sosial itu merupakan pegangan dari warga untuk meluruskan
maupun memaksa warga masyarakat agar tidak menyimpang dari norma sosial, karena
pranata sosial aka tetap tegar di tengah kehidupan masyarakat.
2.5.2
Karakteristik / Ciri-ciri Pranata
Sosial Indonesia
1. Lambang-lambang
biasanya merupakan ciri khas dari pranata sosial, yang secara simbolis menggambarkan
tujuan dan fungsi pranata sosial. Lambang-lambang suatu organisasi mengandung
makna, fungsi dan tujuan dari lembaga sosial yang bersangkutan.
Lambang-lambang tersebut dapat berupa: gambar (logo); tulisan; gabungan antara
gambar, tulisan, maupun logo, dan bendera panji.
2.
Memiliki tingkat kekekalan tertentu,
artinya suatu pranata akan berakhir ketika manusia tidak lagi membutuhkannya.
3.
Merupakan suatu organisasi dari
pola-pola pemikiran dan perilaku yang terwujud melalui aktivitas-aktivitas
sosial.
4.
Mempunyai alat-alat perlengkapan
yang dipakai mencapai tujuan.
5.
Pranata sosial mempunyai tradisi,
baik tertulis maupun tidak tertulis (peraturan/hukum).
6.
Memiliki satu atau beberapa tujuan.
7.
Memiliki alat-alat perlengkapan yang
digunakan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan.
2.5.3 Jenis-jenis
Pranata Sosial di Indonesia
1. Berdasarkan Pengembangannya
·
Cresive institutions (pranata
yang utama) adalah institusi yang paling primer dan tumbuh dari adat istiadat.
Contoh: perkawinan, agama dan hak milik.
·
Enacted institutions (pranata
yang dibuat) adalah institusi yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan atau
tujuan tertentu. Contoh: pendidikan, perdagangan dan utang piutang.
2.
Berdasarkan Sistem Nilai yang
diterima Masyarakat
·
Basic institutions adalah
pranata sosial yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahankan tata
tertib dalam masyarakat. Contoh: keluarga, sekolah dan negara.
·
Subsidiary institutions adalah
pranata yang dianggap kurang penting. Contoh: rekreasi.
3.
Berdasarkan sudut Penerimaan
Masyarakat
·
Approved institutions adalah
pranata sosial yang diterima masyarakat. Contoh: perusahaan, industri, dll.
·
Unsactioned institutions adalah
pranata sosial yang ditolak masyarakat. Contoh: pemeras, penjahat, preman, dll.
4.
Berdasarkan Faktor Penyebarannya
·
General isntitutions adalah
pranata sosial yang dikenal secara umum oleh masyarakat di dunia. Contoh:
agama.
·
Restucted institutons adalah
pranata yang dikenal oleh kelompok masyarakat tertentu saja. Contoh: Katolik,
Kristen, Islam, Budha, Hindu, Konghucu dan sebagainya.
5.
Berdasarkan Fungsinya
·
Cooperative institutions adalah
pranata sosial yang dihimpun pola serta tata cara yang diperlukan untuk
menacapai tujuan pranata. Contoh: pranata industrialisasi.
·
Regulative institutions adalah
pranata sosial yang bertujuan mengawasi adat istiadat yang tidak termasuk
bagian mutlak dari pranata itu sendiri. Contoh: pranata hukum (kejaksaan,
pengadilan, dll).
2.5.4
Kategori Pranata Sosial
Norma hukum
diciptakan oleh pranata sosial, dan pranata sosial dapat diterapkan jika ada lembaga
sosial, seperti bagan berikut ini:
Berdasarkan bagan tersebut pranata sosial dapat dibagi
dalam beberapa kategori sebagai berikut:
1. Pranata
Keluarga. Pranata keluarga merupakan sistem norma dan tata
cara yang diterima untuk menyelesaikan beberapa tugas penting. Keluarga
berperan membina anggota-anggotanya untuk beradaptasi dengan lingkungan fisik
maupun lingkungan budaya di mana ia berada. Bila semua anggota sudah mampu
beradaptasi dengan lingkungan di mana ia tinggal maka kehidupan masyarakat akan
tercipta menjadi kehidupan yang tenang, aman dan tenteram.
2. Pranata
Agama. Agama merupakan sesuatu yang mengatur kehidupan
manusia dengan manusia maupun dengan penciptanya. Agama merupakan salah satu
pranata yang sangat penting dalam mengatur kehidupan manusia. Berdasarkan
fungsi untuk memenuhi keperluan hidup dari warga masyarakat dikenal
istilah religious institutions, yang berfungsi untuk memenuhi
keperluan manusia sehubungan dengan kegiatan berbakti kepada Tuhan sebagai
perwujudan dari hak azasi manusia.
3. Pranata
Pendidikan. Pendidikan ialah proses membimbing manusia dari
kegelapan, kebodohan menuju kecerahan dan kecerdasan pengetahuan atau dari
tidak tahu menjadi tahu. Pendidikan merupakan proses yang terjadi karena
interaksi berbagai faktor yang menghasilkan penyadaran diri dan penyadaran
lingkungan, sehingga menampilkan rasa percaya akan lingkungan.
4. Pranata
Ekonomi. Pranata ekonomi adalah sistem norma atau kaidah yang
mengatur tingkah laku individu dalam masyarakat guna memenuhi kebutuhan barang
dan jasa. Fungsi pranata ekonomi adalah: a) mengatur konsumsi barang dan jasa;
b) mengatur distribusi barang dan jasa; dan c) mengatur produksi barang dan
jasa.
5. Pranata
Politik. Pranata politik adalah peraturan untuk memelihara
tata tertib, untuk mendamaikan pertentangan-pertentangan, dan untuk memilih
pemimpin yang berwibawa. Pranata politik merupakan perangkat norma dan status
yang mengkhususkan diri pada pelaksanaan politik akan meliputi eksekutif,
yudikatif, legislatif, militer dan partai politik.
Contoh Kategori Pranata Sosial
NO.
|
KEGIATAN DAN KEBUTUHAN
|
PRANATA
|
LEMBAGA
|
1
|
Makanan, Pakaian, Perumahan
|
Perdagangan
|
Keluarga Pak Petrus
|
2
|
Peran serta politik
|
Pemilihan Umum
|
KPU, Partai Politik
|
3
|
Pengembangan keturunan
|
Pernikahan
|
Gereja, KUA
|
2.6
Dinamika
perubahan sosial dan budaya
Perubahan sosial berarti adanya
ketidaksesuaian di antara unsur-unsur yang berbeda dalam kehidupan sosial
sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan baru. Perubahan sosial memengaruhi
sistem sosial, nilai, sikap, serta perilaku individu dan kelompoknya. Perubahan
sosial dan kebudayaan mempunyai satu aspek yang sama, yaitu berhubungan dengan
suatu penerimaan cara-cara baru atau perbaikan dalam cara masyarakat memenuhi
kebutuhannya. Di Indonesia, penyebab perubahan sosial melekat pada masyarakat
dengan kebudayaannya yaitu karena menghadapi masalah-masalah baru,
ketergantungan pada hubungan antarwarga pewaris kebudayaan, dan karena
lingkungan yang berubah. Tetapi masyarakat di Indonesia memiliki kecenderungan
untuk mempertahankan nilai-nilai lama karena :
1. Adanya
unsur yang mempunyai fungsi tertentu dan sudah diterima oleh masyarakat secara
luas. Contohnya, sistem kekerabatan dan solidaritas kekerabatan pada suku atau
etnis tertentu yang mempunyai fungsi sangat penting bagi masyarakat.
2. Adanya
unsur-unsur yang diperoleh melalui proses sosialisasi sejak kecil. Contohnya,
mayoritas makanan pokok rakyat Indonesia adalah nasi. Walaupun telah mengenal
berbagai jenis makanan seperti bulgur, jagung dan makanan yang lebih lezat,
masyarakat Indonesia cenderung tetap mempertahankan nasi sebagai makanan
pokonya.
3. Adnya
unsur yang menyangkut agama dan religi yang dianut masyarakat. Mayoritas rakyat
indonesia memeluk agama islam. Namun, sebelumnya, di Indonesia berkembang agama
hindu yang memiliki beraneka ragam kebiasaan yang sekarang masih banyak
mewarnai kehidupan umat islam seperti selametan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100
hari, dan 1000 hari bagi orang yang telah meninggal. Kebiasaan itu sulit
dihilangkan bahkan mungkin jika seseorang tidak mengadakan upacara selametan
tersebut, dia akan merasa bersalah atau berdosa.
4. Adanya
unsur-unsur yang menyangkut ideologi dan filsafat hidup bangsa.
2.7
Ragam
kebudayaan Masyarakat Indonesia
2.7.1
Suku
Bangsa dan Kepribadian Penduduk
Indonesia adalah negara kepulauan
terbesar di dunia. Selain kaya akan sumber daya alamnya, Indonesia juga kaya
akan budaya dan suku bangsanya. Terdapat 300 kelompok etnis (suku) yang berbeda
di Indonesia. Dari pulau kepulau, atau bahkan di dalam pulau itu sendiri,
berbagai bahasa yang berbeda dituturkan dan adat istiadat yang berbeda
ditampilkan. Kebanyakan orang Indonesia termasuk keturunan etnis Melayu.
Biasanya mereka bertubuh kecil, berkulit sawo matang (coklat), dan berambut
hitam lurus. Tetapi pulau-pulau paling timur Indonesia penduduknya bertubuh
agak lebih besar, berkulit lebih gelap dan berambut keriting. Mereka adalah
orang Irian, penduduk yang dominan di Irian Jaya. Bahasa dan budaya orang Irian
jauh berbeda dari bahsa dan budaya sebagian besar bangsa Indonesa. Di tingkat
teknologi, mereka masih jauh tertinggal dari kebanyakan orang Indonesia
lainnya.
Kelompok etnik terbesar di Indonesia
tinggal di pulau jawa, yaitu suku Jawa dan suku Sunda. Jumlah kedua suku itu
60% dari populasi penduduk Indonesia.
Suku Batak dan Minangkabau di Sumatra adalah kelompok etnis kecil yang
terpenting di Indonesia. Keduanya dianggap sebagai suku yang penuh inisiatif
diantara bangsa Indonesia. Banyak pemimpin Indonesia berasal dari kedua suku
ini.
Suku Dayak merupakan suku utama di
pedalaman Kalimantan, sedangkan suku-suku lainnya menetap di pesisir pulau. Di
Sulawesi suku Bulgis dan Makasar yang dikenal sebagai pedagang dan pelau yang
memiliki tradisi khusus, merupakan suku yang paling dominan. Suku Ambon adalah
suku utama di Maluku. Penduduk Cina di negeri ini berjumlah lebih dari $ juta
jiwa.
2.7.2
Bahasa
Sekitar
250 bahasa dan dialek diguunakan di Indonesia. Bahasa resmi adalah bahasa
Indonesia yang dipahami diseluruh pulau. Diantara bahasa daerah, bahasa jawalan
yang paling banyak digunakan.
2.7.3
Agama
Islam adalah agama terbesar di Indonesia
telah mulai disiarkan di beberapa daerah sekitar 500 tahun yang lalu. Indonesia
memiliki populasi muslim terbesar di seluruh dunia. Banyak muslimin memakai
tutup kepala beludru hitam, yang dinamakan peci dan banyak Muslimat yang
memakai jilbab putih. Adat istiadat mereka menunjukan adanya pertautan dengan
kebudayaan kuno kerajaan besar indonesia beberapa abad silam, yang dipengaruhi
oleh falsafah budaya dan agama Hindu dan Budha (yang datang dari India). Namun
kini kebanyakan suku Sunda dan suku Jawa beragama islam. Namun muslimat
Indonesia umumnya tidak menggunakan cadar diwajahnya, sebagaimana yang menjadi
kebiasaan di Timur Tengan dan secara relatif mereka memiliki tingkat sosial
yang tinggi. Sekitar 10% wanita Indonesia menjadi anggota Perlementer Indonesia
(DPR) dan lebih dari 30% menjadi anggota Mahkamah Agung.
Masyarakat
Bali berjumpa 2% dari masyarakat Indonesia, dan mereka beragama Hindu. Di
bagian pedalaman pulau-pulau lainyya terutama di daerah pegunungan dan hutan terpencil,
banyak masyaratyang percaya terhadap pemujaan terhadap roh para leluhur serta
bentuk agama tua lainnya. Sekitar 9% dari seluruh penduduk Indonesia beraga
Kristen – dua pergantianyya Protestan, dan sepertiganya beragama Khatolik Roma.
2.7.4
Ekonomi
Tujuan
utama perekonomian Indonesia adalah memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka
yang membutuhkan. Untuk itu telah banyak terjadi peningkatan sejak kemerdekaan.
Kompetisi kerja telah membuat rata-rata pendapatan perorangan di Indonesia
menjadi rendah. Banyak pekerja menganggur, setengah menganggur, atau bersedia
bekerja dengan gaji rendah – sekitar setengah gaji, dan pada kenyataannya
pekerja-pekerja seperti itu sangat diminati Malaysia dan Thailan.
Ironisnya,
gaji rendah ini menarik perhatian penanaman modal asing seperti; Jepang,
Taiwan, Korea Selatan, Amerika, Jerman, dan Australia. Ratusan perusahaan asing
mendirikan pabriknya di Indonesia, dan memberikan lapangan kerja anatara lain
dalam bidang pembuatan sepatu, mainan, textil, elektronik, kertas, dan
petrokimia. Pada masa krisis ekonomi di akhir tahun sembilan puluhan banyak
pabrik-pabrik bangkrut, dan menyebabkan ribuan penduduk kota kehilangan
pekerjaan. Kejadian ini mendorong mereka kembali kedaerah pedesaan untuk
mencari mata pencaharian.
2.7.5
Mata
Pencaharian
Pertanian,
sejak jaman kuno, penduduk yang mendiami wlayah indonesia telah memanfaatkan
berbagai kekayaan alam yan ada di wilayah ini. sekitar 45% dari seluruh
pekerjaan di indonesia terlibat di pertanian. Beras yang merupakan makanan
pokok orang indonesia adalah hasil pertanian utama. Masyarakat indonesia
lainnya bekerja pada lahan kecil atau perkebunan-perkebunan besar yang
memproduksi hasil tanaman, seperti karet, kelapa, dan minyak sawit.
Kehutanan dan
Perikanan, Pohon jati tumbuh pada perkebunan di
Jawa, sedangkan hutan alami mendukung sebuah industri besar kehutanan di
Kalimantan. Sumatra, dan pulau-pulau lainnya. Ikan merupakan sumber utama
protein hewani dalam menu makanan Indonesia. Namun penangkapan ikan belum
dikembangkan secara komersial. Hal ini karena nelayan Indonesia masih
kekurangan peralatan penangkap ikan medern. Sebagian besar iakn Indonesia
ditamngkap di laut, namun kini dilakukan peningkatan budidaya ikan air tawar di
tambak-tambak ikan.
Pertambangan,
indonesia berupaya mengembangkan sumber mineral yang berlimpah dengan jalan
pembatasan ekspor mineral tanpa diproses dan mendorong para penambang untuk
mendirikan pabrik peleburan dan pemrosesan lainnya. Minyak bumi dan gas alam
merupakan hasil tambang mineral utama.
Industrialisasi,
selain pertanian dan ekspor bahan mentah yang mendominasi kegiatan ekonomi,
Indonesia pun telah menjadi negara industri dalam 35 tahun terakhir. Beberapa
di antara industri besar di Indonesia adalah industri pengolahan besi, minyak,
kayu dan mebel, produk kimia, semen, kaca, produk berbahan dasar karet, mesin
dan pupuk. Sebagian industri itu langsung di kontrol oleh pemerintah, yaitu
kegiatan usaha yang di sebut BUMN ( Badan Usaha Milik Negara). Indonesia juga
berusaha mengembangkan industri berteknologi tinggi, seperti barang-barang
elektronik dan pesawat terbang.[22]
2.8 Teori yang Relevan
dengan Negara Indonesia
Secara
sosiologis, perubahan sosial budaya akan selalu mengikuti suatu pola dan arah
tertentu, begitu pun di negara Indonesia, pola dan arah perubahan itu dapat dipelajari melalui
teori siklus dan teori perkembangan.
1.
Teori Siklus
Teri siklus melihat perubahan sebagai suatu yang
berulang-ulang. Apa yang terjadi saat ini di Indonesia pada dasarnya memiliki kesamaan atau kemiripan dengan
apa yang telah terjadi sebelumnya. Semua peradaban yang pernah terjadi di
negara Indonesia adalah berada dalam siklus tiga sisitem kebudayaan, seperti berikut :
a.
Kebudayaan
ideasional (identional culture)
Kebudayaan ini didasari oleh nilai dan kepercayaan
terhadap unsur adikodrati (supernatural).
b.
Kebudayaan
idealistis (idealistic culture)
Kebudayaan ini berisi kepercayaan terhadap unsur
adikodrati dan rasionalitas berdasarkan fakta saling bergabung dalam
menciptakan masyarakat yang ideal.
c.
Kebudayaan
indrawi (sensational culture)
Dalam kebudayaan ini, hal yamg dapat diindra merupakan
tolak ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.
2.
Teori
Perkembangan
Perubahan di Brunei dapat diarahkan ke titik tujuan
tertentu, seperti perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern
yang kompleks. Pada waktu itu masyarakat Brunei yang masih tradisional
menggunakan peralatan yang terbuat dari bahan seadanya melalui proses pembuatan
secara manual. Teknologi ini kemudian berkembang menjadi teknologi yang
canggih, yang pada intinya bertujuan mempermudah pekerjaan masyarakat Brunei
pada khususnya, dan seluruh manusia pada umumnya.
Teori perkembangan ini
terbagi menjadi dua, yaitu :
1.
Teori evolusi :
bahwa masyarakat Brunei secara bertahap berkembang dari primitif, teradisional,
menuju masyarakat modern yang kompleks dan mau.
2.
Teori revolusi :
contoh revolusi yang terjadi di Brunei adalah ketika revolusi kemerdekaan
negara Brunei pada 1 Januari 1984.[23]
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Asia
tenggara merupakan salah satu tempat peleburan besar di dunia. Penduduknya yang
beraneka ragam bepindah kewilayah ini untuk mencari kehidupan yang lebih baik
dan keamanan yang lebih terjamin. Kini Asia Tenggara meliputi berbagai negara
merdeka seperti Indonesia, Filiphina, Brunei, Malaysia, Singapura, Vietnam,
Laos, Kampuchea (sebelumnya adalah Kamboja), Thailan dan Myanmar.
2. Indonesia
terletak diantara dua benua (Benua Asia dan Benua Australia) dan dua Samudra
(Samudra Hindia dan Samudra Pasifik). Luas wilayah daratan Indonesia 18.945 km2,
sedangkan luas lautan sesuai dengan batas teritorial 3.257.357 km2.
Jumlah pulau Indonesia 17.508 pulau. Pulau yang sudah di beri nama sekitar 44%,
sedangkan yang sudah didiami penduduk baru sekitar 7%.
3. Umumnya
di Indonesia terdapat aturan untuk berinteraksi, yang meliputi :
Usia:
cara seseorang berinteraksi dengan orang yang lebih tua seringkali berbeda
dengan orang yang sebaya, atau dengan orang yang lebih muda.
Contoh:
Di Indonesia dalam berbicara atau berinteraksi dengan orang yang lebih tua
dengan cara lebih santun dalam arti tidak kasar dan tidak seenaknya.
4. Perubahan
sosial berarti adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur yang berbeda dalam
kehidupan sosial sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan baru. Perubahan
sosial memengaruhi sistem sosial, nilai, sikap, serta perilaku individu dan
kelompoknya. Perubahan sosial dan kebudayaan mempunyai satu aspek yang sama,
yaitu berhubungan dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau perbaikan dalam
cara masyarakat memenuhi kebutuhannya. Di Indonesia, penyebab perubahan sosial
melekat pada masyarakat dengan kebudayaannya yaitu karena menghadapi
masalah-masalah baru, ketergantungan pada hubungan antarwarga pewaris
kebudayaan, dan karena lingkungan yang berubah.
5. Indonesia
adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Selain kaya akan sumber daya
alamnya, Indonesia juga kaya akan budaya dan suku bangsanya. Terdapat 300
kelompok etnis (suku) yang berbeda di Indonesia.
6. Perekonomian
Indonesia adalah memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan.
Untuk itu telah banyak terjadi peningkatan sejak kemerdekaan. Kompetisi kerja
telah membuat rata-rata pendapatan perorangan di Indonesia menjadi rendah.
Banyak pekerja menganggur, setengah menganggur, atau bersedia bekerja dengan
gaji rendah – sekitar setengah gaji, dan pada kenyataannya pekerja-pekerja
seperti itu sangat diminati Malaysia dan Thailand.
7. Mata
Pencaharian di indonesia meliputi:
·
Pertanian,
sejak jaman kuno, penduduk yang mendiami wlayah indonesia telah memanfaatkan
berbagai kekayaan alam yan ada di wilayah ini. sekitar 45% dari seluruh
pekerjaan di indonesia terlibat di pertanian. Beras yang merupakan makanan
pokok orang indonesia adalah hasil pertanian utama.
·
Kehutanan
dan Perikanan, Pohon jati tumbuh pada perkebunan di
Jawa, sedangkan hutan alami mendukung sebuah industri besar kehutanan di
Kalimantan. Sumatra, dan pulau-pulau lainnya. Ikan merupakan sumber utama
protein hewani dalam menu makanan Indonesia.
·
Pertambangan,
indonesia berupaya mengembangkan sumber mineral yang berlimpah dengan jalan
pembatasan ekspor mineral tanpa diproses dan mendorong para penambang untuk
mendirikan pabrik peleburan dan pemrosesan lainnya. Minyak bumi dan gas alam
merupakan hasil tambang mineral utama.
·
Industrialisasi,
selain pertanian dan ekspor bahan mentah yang mendominasi kegiatan ekonomi,
Indonesia pun telah menjadi negara industri dalam 35 tahun terakhir. Beberapa
di antara industri besar di Indonesia adalah industri pengolahan besi, minyak,
kayu dan mebel, produk kimia, semen, kaca, produk berbahan dasar karet, mesin
dan pupuk. Sebagian industri itu langsung di kontrol oleh pemerintah.
DAFTAR PUSTAKA
Diarawati,Ajen. 2006.
RPUL Dunia. Jakarta: PT Wahyu Media
International
Groiler.1992.Bangsa dan Negara. Jakarta:PT widyadara
Marwati.Kun.2001.
Sosiologi untuk SMA dan MA. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama
Marwati.Kun.2002.
Sosiologi untuk SMA dan MA. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama
Mayawati,Ika
DKK.2009.World Herltage. Jakarta: PT Kharisma Ilmu
Mutakin,Awan. 2004.
Dinamika Masyarakat Indonesia. Jakarta: PT Genesindo
PaEni,
Mukhlis. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Reid,Anthoni.
2011. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1950-1680.Jakarta: PT Yayasan Pustaka
Obor Indonesia
Sutikno,Edi DKK.2007.
Ensliklopedia Geografi. Jakarta: PT Lentera Abadi
Nasikun.
1995. "Struktur Majemuk Indonesia" dalam Sistem Sosial Indonesia.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persad, pp. 27-50
Nasikun.
1995. "Struktur Masyarakat Indonesia dalam Masalah Integrasi
Nasional" dalam Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT.Raja Grafindo
Persada, pp. 61-87
[1] Awan Mutakin DKK. Dinamika Masyarakat Idonesia.Bandung:
PT. Genesindo. 2004. Hlm 4
[2] ibid. hlm 5
[3] Awan Mutakin DKK., Op cit., hlm 9
[4] Edi sutikno DKK.2007. Ensiklopedia Geografi. Jakarta: PT lentera
Abadi. hlm 158-159
[5] _____.Negara dan Bangsa
Asia, Jilid 3. Jakarta: PT. Ikrar Mandiriabadi. 2002. hlm 219
[6] Ibid hlm 220
[7] Ibid hlm 220
[8] Ibid hlm 221
[9] Ibid hlm 221
[10]Ibid hlm 222
[23] Sosiology,. Op cit,.hlm102.


Comments
Post a Comment